Bismillah..

Rasulullah saw diutus oleh Allah untuk berdakwah membawa ajaran yang benar. Dalam sejarah kehidupan Rasulullah, banyak orang-orang yang ikut berperan serta dalam perjuangan dakwah beliau, tak terkecuali para wanita.

Sebagaimana kita ketahui, orang yang pertama kali membenarkan kerasulan beliau adalah seorang wanita, dialah Khadijah istri sekaligus sahabat setia yang menemani perjuangan dakwah beliau.

Saat pertama kali Rasulullah menerima wahyu di Gua Hira, beliau merasakan sesuatu yang tidak biasanya beliau rasakan. Beliau seketika pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk. Saat tiba di rumah, Khadijah yang setia menyambut beliau dan menenangkan perasaan beliau dengan ucapannya, “Tidak akan terjadi apa-apa padamu. Demi Allah, sama sekali Allah tidak akan pernah membuatmu merasa kesakitan. Sungguh engkau seorang yang senantiasa menyambung sanak kerabat, mengemban amanat, menolong orang yang kehilangan, menjamu tamu dan menolong orang yang sedang kesusahan.”

Mendengar ucapan Khadijah, seketika hati Nabi menjadi tenang. Sebagai istri, Khadijah telah mengambil sikap cerdas, yaitu memberikan dukungan total terhadap dakwah sang suami. Khadijah bukan hanya menjadi pelipur lara di kala duka, dia juga menyokong dakwah Nabi dengan seluruh tenaga, harta, dan pikiran, tanpa pernah merasa lelah. Sejarah mencatat, Khadijah. Telah memberi andil yang sangat besar dalam membangun dakwah Rasulullah saw.

Wanita pada zaman Rasulullah juga berperan mengislamkan orang yang masih kafir, sebagaimana yang dilakukan oleh Fathimah binti Khathab. Suatu ketika, Umar yang waktu itu masih kafir berniat untuk membunuh Rasulullah. Namun di tengah jalan, ada orang yang memberitahukan bahwa saudarinya yang bernama Fathimah binti Khathab telah masuk Islam.

Dengan geram Umar segera menuju ke rumah saudarinya, Fathimah. Saat itu, di rumahnya Fathimah binti Khattab sedang duduk-duduk bersama suaminya sembari membaca Al-Qur`an Tiba-tiba Umar mengetuk pintu. Suami Fathimah menyembunyikan mushaf yang dibaca. Fathimah lalu membukakan pintu, sementara Umar masuk dan langsung memukul suami Fathimah. Fathimah dengan tegas berkata, “Tahukah engkau, bahwa kebenaran ada bukan pada agamamu.” Umar langsung menampar Fathimah hingga tersungkur jatuh ke tanah. Setelah itu Fathimah mengulangi ucapannya.

Pada waktu itu tangan Fathimah memegang lembaran Al-Qur’an. Umar memerintahkan Fathimah agar menyerahkan lembaran itu kepadanya. Fathimah dengan tegas berkata, “Wahai saudaraku, engkau tidak suci karena engkau penyembah berhala. Lembaran ini hanya boleh disentuh oleh orang yang suci.” Fathimah lalu meminta Umar untuk mandi. Setelah mandi, Fathimah menyerahkan lembaran itu. Dalam hatinya dia berharap agar saudaranya itu bisa mendapat hidayah Islam.

Umar memegang lembaran itu dan membaca surat Thaha yang tertulis pada lembaran itu. Dengan izin Allah, hati Umar akhirnya terbuka menerima Islam lewat tangan saudarinya, Fathimah binti Khathab.

Bagitu pula dalam ketika orang-orang kafir memerangi Rasulullah, wanita berperan aktif dalam memberikan bantuan moral, menyemangati prajurit perang, merawat korban yang terluka, menyuplai air minum, dan ada pula yang ikut langsung terjun ke medan peperangan melindungi Rasulullah dari serangan musuh.

Sebagai contoh adalah Shafiyyah binti Abdul Muthalib (bibi Rasulullah). Pada waktu Perang Uhud, saat itu pasukan muslim kocar-kacir akibat tidak patuhnya regu pemanah terhadap instruksi Rasulullah. Ketika pasukan Muslim mulai melarikan diri, berdirilah Shafiyah sambil mengibas-ngibaskan tombak hendak memukulkan tombah itu ke wajah orang-orang yang lari dari medan pertempuran, seraya berkata, “Apakah kalian akan melarikan diri dan meninggalkan Rasulullah?” Dengan perkataannya ini, akhirnya para prajurit yang sedianya akan melarikan diri, kemudian berbalik dan berjuang bersama Rasulullah sampai titik darah penghabisan.

Kepahlawanan Shafiyyah juga bisa dilihat pada saat terjadi Perang Khandaq. Ketika itu para wanita dan anak-anak kaum Muslimin dikumpulkan di sebuah benteng yang dipimpin Hassan bin Tsabit. Tiba-tiba ada seorang yahudi yang mengendap-endap mengelilingi benteng, sementara semua pasukan kaum Muslimin sedang berada di medan perang. Shafiyyah bangkit dan berkata kepada Hassan bin Tsabit, “Sungguh, aku tidak akan merasa tenang jika ia sampai memberitahukan kelemahan kita, maka bangkitlah dan bunuhlah orang Yahudi itu.”

Hassan bin Tsabit berkata, “Wahai Shafiyyah, engkau telah tahu sejak dulu bahwa aku tidak mempunyai kemampuan untuk itu.”

Mendengar ucapan Hassan tersebut, Shafiyyah segera bangkit dan mengambil sebuah kayu yang keras. Dia lalu turun dari benteng untuk mengintai dan mencari kelengahan orang Yahudi tersebut. Pada saat yang tepat, Shafiyyah berhasil memukul bagian belakang kepada Yahudi itu hingga tersungkur. Shafiyyah lalu memukulnya lagi beberapa kali sampai orang Yahudi tersebut mati. Shafiyyah, sebagaimana dikatakan adalah wanita Muslimah pertama yang berhasil membunuh seorang laki-laki.

Terakhir, ketika menjelang detik-detik ajalnya, yang senantiasa setia merawat beliau adalah seorang wanita, dialah Aisyah ra. Dengan telaten Aisyah merawat beliau yang sedang sakit keras hingga akhirnya Rasulullah meninggal di pangkuan wanita yang mulia tersebut.

Dengan demikian, peran wanita pada masa perjuangan Rasulullah menyebarkan dakwah tidak bisa dianggap ringan. Hal ini semestinya bisa dijadikan cermin bagi para perempuan sekarang, bahwa keberadaan mereka sangat membantu dakwah Islam.

Wallahu a’lam bish showab.

————-

Artikel : Grup Shahabiyah ( Grup wanita )